IDEA Consultant in Indoor Activity

Selasa, 12 Juli 2011

PELAYANAN PRIMA : PARAMETER MUTU

Masing masing bagian harus menetapkan parameter mutu untuk pelayanan yang terbaik (baca:prima)

Sertifikasi ISO 9001 merupakan awal dibangunnya komitmen terhadap 'Penjaminan Mutu' Proses (pelayanan) ...






Parameter Mutu harus ditetapkan sebagai bentuk komitmen manajemen, dan setiap 'periode' wajib untuk memonitoring dan mengukur pencapaiannya dengan analisis data yang relevan.

Duduk bersama menetapkan standar pelayanan (prima) dengan methode :
Specific, Measurable, Achievable, Realistic &
Time Frame



 Perbaikan Berkelanjutan (Continued Improvement) dengan senantiasa melakukan tinjauan ulang perihal :









1. Kecepatan (waktu) Pelayanan
2. Akurasi (Ketepatan) Pelayanan
3. Kenyamanan
4. Respon (tanggung jawab) terhadap 'keluhan'
5. Inovasi Pelayanan





"Sekali Melangkah Pantang Surut Arah !!!"

Rabu, 25 Mei 2011

STRONG LEADERSHIP MUTLAK DIPERLUKAN DALAM PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU (BACA ISO 9001)

Sebuah kehidupan selalu identik dengan masalah. Termasuk dalam hal ini 'kehidupan' dan kelangsungan organisasi. Tidak memilih organisasi apa pun demikian hal nya Sekolah, dimana dan kapan berada pasti tidak luput dari permasalahan.

Adobsi dan penerapan ISO 9001:2008 oleh sekolah dan organisasi lain bukan serta merta akan menghilangkan permasalahan. Justru penerapannya malah akan semakin mengidentifikasikan masalah secara menyeluruh. 

Yang harus kita cermati bukan sekedar munculnya permasalahan, namun yang penting kita perhatikan adalah 'bagaimana kita menyikapi adanya masalah'. Apakah dengan cara-cara yang NEGATIF ataukan dengan cara-cara yang POSITIF.

Sebuah lingkaran 'siklus' yang tak pernah berhenti, terdiri dari tiga unsur utama dalam permaslaahan penerapan Sistem Manajemen Mutu : Nilai-nilai, Sistem, dan Strong Leadership. Sistem Mutu yang kuat manakala terbangun oleh adanya 'nilai-nilai' budaya organisasi yang kuat. Sistem Mutu yang kuat merupakan wujud adanya sebuah Strong Leadership yang luar biasa. Artinya : bahwa penerapan Sistem Manajemen Mutu tidak bisa dengan 'menyerahkan' semua nya kepada bagian, unit, atau Wakil Manajemen Mutu. Top Manajemen tetap harus ikut menjaga dan mengawasi jalannya sistem mutu secara konsisten.

Kepemimpinan yang kuat, tegas, disiplin & transparan sangat diperlukan untuk menjaga adanya penerapan Sistem Manajemen Mutu. Sistem Manajemen Mutu yang tertata sistematik dan didukung teknologi, akan menjaga dan menumbuhkembangkan 'Nilai-nilai' budaya kerja dalam organisasi dengan subur. Nilai nilai seperti apa ? Kejujuran, kedisplinan, sportifitas, kebersamaan & gotong royong, relegius, dan lain lain sesuai Visi dan Misi sekolah sebagai wujud CITA CITA organisasi.

Rabu, 30 Maret 2011

PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT DALAM PENDIDIKAN


 Dalam dunia persaingan global yang tajam saat ini, orang banyak berbicara tentang “mutu” terutama berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan produk dan/atau jasa. Suatu produk dibuat karena ada yang membutuhkan, dan kebutuhan tersebut berkembang seiring dengan tuntutan mutu penggunanya. Total Quality Management (TQM) atau disebut Manajemen Mutu Terpadu (MMT) hadir sebagai jawaban atas kebutuhan akan mutu tersebut.
Suatu produk dan/atau jasa dibuat sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Titik temunya antara harapan dan kebutuhan pelanggaran dengan hasil produk dan/atau jasa itulah yang disebut “bermutu.” Jadi ukuran bermutu tidaknya suatu produk dan/atau jasa adalah pada terpenuhi tidaknya harapan dan kebutuhan pengguna/pelanggan. Semakin tinggi tuntutan pengguna maka semakin tinggi kualitas mutu tersebut.
Tulisan singkat ini ingin membahas bagaimana penerapan TQM/MMT dalam aktivitas  pendidikan sebagai bahan pengantar mengenalinya.

PENGERTIAN TQM
Menurut Salis (1993) TQM adalah sebagai suatu filosofi dan suatu metodologi untuk membantu mengelola perubahan, dan inti dari TQM adalah perubahan budaya dari pelakunya. Lebih lanjut Slamet (1995) menegaskan bahwa TQM adalah suatu prosedur dimana setiap orang berusaha keras secara terus menerus memperbaiki jalan menuju sukses. TQM bukanlah seperangkat peraturan dan ketentuan yang kaku, tetapi merupakan prosesproses dan prosedur-prosedur untuk memperbaiki kinerja.

TQM juga menselaraskan usaha-usaha orang banyak sedemikian rupa sehingga orang-orang tersebut menghadapi tugasnya dengan penuh semangat dan berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan.

Oleh karena TQM menselaraskan usaha-usaha orang banyak dan agar mereka bersemangat dan berpartisipasi dalam perbaikan pelaksanaan pekerjaan, maka menuntut adanya perubahan sifat hubungan antara yang mengelola (pimpinan) dan yang melaksanakan pekerjaan (staf atau karyawan). Perintah dari atasan diubah menjadi inisiatif dari bawah, dan tugas pimpinan bukanlah memberi perintah tetapi mendorong dan memfasilitasi perbaikan mutu pekerjaan.

APA  DAN  MENGAPA MUTU
Mutu adalah sifat dari benda dan jasa. Setiap orang selalu mengharapkan bahkan menuntut mutu dari orang lain, sebaliknya orang lain juga selalu mengharapkan dan menuntut mutu dari diri kita. Ini artinya, mutu bukanlah sesuatu yang baru, karena mutu adalah naluri manusia. Benda dan jasa sebagai produk dituntut mutunya, sehingga orang lain yang
menggunakan puas karenanya. Dengan demikian, mutu adalah paduan sifat-sifat dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
Benda dan jasa sebagai hasil kegiatan manusia yang secara sadar dilakukannya disebut “kinerja”. Kinerja itulah yang dituntut mutunya, sehingga muncul istilah “mutu kinerja manusia”. Suatu kinerja disebut bermutu jika dapat menemuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Oleh karena itu, maka suatu produk atau jasa sebagai kinerja harus dibuat sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya.
Dalam pembicaraan tentang mutu, terdapat unsur-unsur yang terkait, yaitu: produk dan jasa, penghasil produk/jasa, pelanggan, kebutuhan dan harapan, produk/jasa yang bermutu dan kepuasan. Produk dan jasa adalah hasil yang diproduksi karena ada yang memerlukan. Orang yang membuat produk atau jasa disebut penghasil produk/jasa, sedangkan orang yang memerlukan produk/jasa itu disebut pelanggan. Adapun kebutuhan dan harapan adalah cerminan dari apa saja yang diharapkan atau dibutuhkan oleh pelanggan dari pihak penghasil produk/jasa. Adanya produk/jasa yang disebut bermutu bila dapat memenuhi atau bahkan melebihi dari sekedar kebutuhan dan harapan pelanggan/penggunanya, yang ditandai dengan kepuasan.

Ciri-ciri mutu (sebagai bentuk pelayanan pelanggan) ditandai dengan:
(1) ketepatan waktu pelayanan, (2) akurasi pelayanan, (3) kesopanan dan keramahan (unsur menyenangkan pelanggan), (4) bertanggung jawab atas segala keluhan complain) pelanggan, (5) kelengkapan pelayanan, (6) kemudahan mendapatkan pelayanan, (7) variasi layanan, (8) pelayanan pribadi, (9) kenyamanan, (10) dan ketersediaan atribut pendukung (Slamet, 1999).

Setiap produk/jasa yang bermutu memberikan pelayanan tepat waktu seperti yang disepakati dengan pelanggan. Kemoloran atau tertundanya waktu dari yang telah disepakati menjadi cacat mutu karena cidera janji. Akurasi pelayanan atau ketepatan produk/jasa seperti yang diminta atau dipesan oleh pelanggan juga merupakan salah satu dari ciri mutu pelayanan. Kesalahan atau kemelencengan dari apa yang dipesan, menyebabkan produk/jasa tersebut tidak bermanfaat bahkan mendatangkan kerugian bagi pelanggan. Untuk itu menjadi penting melakukan proses pendefisian kebutuhan pelanggan sebelum proses produksi/layanan dilakuan.

Setiap pelayanan yang bermutu harus menyenangkan pelanggan, sehingga kesopanan dan keramah-tamahan dalam berkomunikasi dengan pelanggan menjadi unsur penting untuk menjaga mutu. Ungkapan sehari-hari dalam dunia bisnis: “pembeli adalah raja” maksudnya adalah berusaha menyenangkan pembeli agar kembali lagi untuk membeli di kesempatan lain. Setiap penghasil produk/jasa harus berani bertanggung jawab atas segala yang telah diperbuatnya, ia harus mempertanggung jawabkan atas segala resiko yang diakibatkan oleh pekerjaan itu. Semua yang menjadi keluhan (complain) pelanggan harus dipertanggung jawabkan, jika produk tidak sesuai dengan yang dipesan/dibutuhkan sesuai janji kesepakatan sebelumnya, maka ia harus bertanggung jawab untuk menggantinya.

Sebagai penghasil produk/jasa haruslah selengkap mungkin menyediakan sarana dan kemampuan yang diperlukan oleh pelanggan. Ini artinya, bahwa penghasil produk/jasa haruslah profesional dan kompeten dengan bidangnya. Selain itu, sebagai penghasil produk/jasa haruslah memberikan kemudahan kepada pelanggan untuk mendapatkan produk/jasa tersebut, baik yang berhubungan dengan waktu, tempat, atau kemudahan menjangkaunya.

Bentuk pelayanan hendaknya juga bervariasi, sehingga banyak pilihan bagi pelanggan. Inovasi haruslah digalakkan sehingga banyak temuan untuk menunjang variasi layanan tersebut. Sedapat mungkin pelayanan bersifat pribadi lebih ditonjolkan, sehingga tidak terkesan kaku, fleksibel dan terkesan ada penanganan khusus bagi pelanggan. Kenyamanan pelayanan harus pula diciptakan, misalnya berhubungan dengan lokasi/ruangan, fasilitas pelayanan yang memadai seperti petunjuk-petunjuk yang mudah dikenali oleh pelanggan, dan ketersediaian informasi yang dibutuhkan oleh pelanggan.

Peranan atribut pendudukung seperti lingkungan yang nyaman, kebersihan yang standar, ruangan ber AC, ruang tunggu dan lain-lain yang bersifat penunjang sangat diperlukan bagi suksesnya pelayanan mutu. Oleh karena itu perlu diperhatikan. Konsep mutu sebenarnya selain bersifat absolut juga bersifat relative dari pelanggannya. Mutu yang bersifat absolut menunjuk pada suatu produk/jasa yang standar tertentu, dipatok dengan ukuran tertentu oleh suatu lembaga yang memiliki otonomi untuk itu. Mutu suatu produk/ jasa yang bersifat relatif berarti tergantung pada konsumennya/pelanggannya bagaimana mereka menetapkan standar kebutuhan dan harapannya.

Mengapa produk/ jasa harus bermutu? Dalam persaingan bebas kita seharusnya berorientasi pada kebutuhan dan harapan konsumen atau pelanggan (customers). Jika produk/layanan hasil kinerja kita tidak bermutu, maka customers akan meninggalkan kita, karena ada alternatif lain yang bias dipilih oleh mereka. Jika penghasil produk/jasa ingin tetap berlangsung usahanya (dipakai oleh customers), maka ia harus menjaga mutu bahkan meningkatkan mutu produk/jasa layanannya seiring dengan tuntutan kebutuhan dan harapan customers.

Adapun sifat-sifat pokok mutu jasa, menurut Slamet (1999) adalah mengadung unsur-unsur: (1) keterpercayaan (reliability), (2) keterjaminan (assurance), (3) penampilan (tangibility), (4) perhatian ( emphaty), dan (5) ketanggapan (responsiveness).

Keterpercayaan dapat dihasilkan dari sikap dan tindakan seperti: jujur, tepat waktu pelayanan, terjaminnya rasa aman dengan produk/jasa yang dipergunakan/diperoleh, dan ketersediaan produk/jasa saat dibutuhkan pelanggan. Keterjaminan suatu mutu jasa dapat ditimbulkan oleh kondisi misalnya penghasil produk/jasa memang kompeten dalam bidangnya, obyektif dalam pelayanannya, tampil dengan percaya diri dan meyakinkan pelanggannya.

Penampilan adalah sosok dari produk/jasa dan hasil karyanya. Misalnya bersih, sehat, teratur dan rapi, enak dipandang, serasi, berpakaian rapi dan harmonis, dan buatannya baik. Empati adalah berusaha merasakan apa yang dialami oleh pelanggan (“seandainya saya dia”). Cara berempati dapat dinyatakan dengan penuh perhatian terhadap pelanggan, melayani dengan ramh dan memuaskan, memahami keinginan pelanggan, berkomunikasi dengan baik dan benar, dan bersikap penuh simpati.

Adapun ketanggapan adalah ungkapan cepat tanggap dan perhatian terhadap keluhan pelanggan. Ungkapan tersebut dapat dinyatakan dengan cepat memberi respon pada permintaan pelanggan dan cepat memperhatikan dan mengatasi keluhan pelanggan.

TUJUAN DAN UNSUR UTAMA TQM
Tujuan utama TQM adalah meningkatkan mutu pekerjaan, memperbaiki produktivitas dan efisiensi. TQM sebagai suatu prosedur untuk mencapai kesuksesan, dinilai berhasil manakala mutu dari suatu pekerjaan meningkat lebih baik kualitasnya dari sebelumnya, produktivitasnya tinggi yang ditunjukkan dengan hasil kerja berupa produk/jasa lebih bayak jumlahnya dari sebelumnya, dan lebih efisien yang bisa diartikan lebih murah biaya produksinya atau input lebih kecil daripada outputnya.

Ada lima unsur utama dalam penerapan TQM, yaitu: (1) berfokus pada pelanggan, (2) perbaikan pada proses secara sistematik, (3) pemikiran jangka panjang, (4) pengembangan sumberdaya manusia, dan (5) komitmen pada mutu (Slamet,1999).

Manajemen mutu terpadu (TQM) berfokus pada pelanggan. Pelanggan adalah sosok yang dilayani. Perhatian dipusatkan pada kebutuhan dan harapan para pelanggan. Untuk ini setiap yang akan melaksanakan TQM harus mengetahui ciri-ciri pelanggan-pelanggannya, dan karena itu maka harus mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan dan harapan pelanggan tersebut agar bisa memuaskannya. Produk/jasa yang dibuat atau diberikan haruslah bertumpu pada pelanggan. Perbaikan pada proses secara sistematik, menunjuk pada kondisi dimana setiap kegiatan hendaknya direncanakan dengan baik, dilaksanakan secara cermat, dan hasilnya dievaluasi dibandingkan dengan standar mutu yang ditentukan sebelumnya. Selain itu, bahwa setiap prosedur kerja yang sedang dilaksanakan juga perlu ditinjau apakah telah mendatangkan hasil yang diharapkan. Bila tidak, maka prosedur itu perlu diubah dan diganti dengan yang lebih baik dan sesuai. Jadi disini, harus ada keterbukaan dan kesediaan berubah dan menggantikan hal yang lama dengan hal yang baru jika memang diperlukan. Ini berlaku bagi multilevel, baik dari tingkat pimpinan sampai dengan staf terbawah.

Pemikiran jangka panjang menunjuk pada visi dan misi lembaga. Visi dan misi lembaga harus dirumuskan dan dicapai bersama oleh segenap unsur dalam lembaga, kemana arah lembaga akan tertuju untuk jangka panjang. Suatu kegiatan staf atau siapapun dalam lembaga tersebut harus dapat ditelusuri mampu menyumbang apa dan seberapa kepada pencapaian visi dan misi lembaga. Disilah maka, untuk menerapkan TQM dipersyaratkan adanya pimpinan yang memiliki visi jangka panjang, berkemampuan kerja keras, tekun dan tabah mengemban misi, disiplin, dan memiliki sikap kepelayanan yang baik misalnya: kepedulian terhadap staf, sopan dan berbudi, sabar, bijaksana, bersahabat dan bersedia membantu sesame dalam lembaga tersebut.

Pengembangan sumberdaya manusia (SDM) menjadi kata kunci dalam penerapan TQM. Semua anggota atau bagian dari lembaga tersebut harus berusaha menguasai kompetensi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Dalam lembaga harus terjadi suasana saling belajar, segala sumber belajar dimanfaatkan untuk meningkatkan kompetensi masing-masing staf. Bagaikan suatu bangunan, lemahnya SDM dalam bagian tertentu dalam lembaga akan mengganggupencapaian visi dan misi, sehingga harus diperbaiki/ ditingkatkan.

Unsur lainnya adalah komitmen pada mutu. Semua kegiatan lembaga harus diorientasikan pada pencapaian mutu. Harus ada kesadaran dan keyakinan bagi seluruh anggota atau bagian dalam lembaga akan perlunya mutu kinerja masing-masing, dan karenanya harus ada tekat dan rasa keterikatan yang kuat untuk menjada dan meningkatkan mutu kerja masingmasing yang menyokong mutu lembaga. Dengan adanya komitmen pada mutu, akan mampu menggerakkan usaha-usaha yang terus menerus untuk meningkatkan mutu, sehingga tidak akan menyerah pada kendala-kendala dan kesulitan-kesulitan yang menghadang diperjalanan menerapkan TQM
dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan.

BAGAIMANA MENGHASILKAN MUTU?
Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut Slamet (1999) terdapat tempat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga penghasil produk/jasa, yaitu:

(1) Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalah-menang” diantara fihak yang berkepentingan dengan lembaga penghasil produk/jasa (stakeholders) . Dalam hal ini terutama antara pimpinan/pemilik lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut.

(2) Perlunya ditumbuh-kembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu produk/jasa. Setiap orang harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.

(3) Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan TQM bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.

(4) Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil produksi/jasa. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan produk/jasa yang bermutu sesuai yang diharapkan.

Cara lain untuk mencapai suatu mutu dari produk/jasa, menurut Edward Deming (Salis, 1993) terdapat 14 prinsip yang harus dilakukan, yaitu:

(1)     Tumbuhkan terus menerus tekad yang kuat dan perlunya rencana jangka panjang berdasarkan visi ke depan dan inovasi baru untuk meraih mutu.
(2)     Adopsi filosofi yang baru. Termasuk didalamnya adalah cara-cara atau metode baru dalam bekerja.
(3)     Hentikan ketergantungan pada pengawasan jika ingin meraih mutu. Setiap orang yang terlibat karena sudah bertekat mencipkan mutu hasil produk/jasanya, ada atau tidak ada pengawasan haruslah selalu menjaga mutu kinerja masing-masing .
(4)     Hentikan hubungan kerja yang hanya atas dasar harga. Harga harus selalu terkait dengan nilai kualitas produk atau jasa.
(5)     Selamanya harus dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap kualitas dan produktivitas dalam setiap kegiatan.
(6)     Lembagakan pelatihan sambil bekerja (on the job training), karena pelatihan adalah alat yang dahsyat untuk pengembangan kualitas kerja untuk semua tingkatan dalam unsur lembaga.
(7)     Lembagakan kepemimpinan yang yang membantu setiap orang untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan baik misalnya: membina, memfasilitasi, membantu mengatasi kendala dll.)
(8)     Hilangkan sumber-sumber penghalang komunikasi antar bagian dan antar individu dalam lembaga.
(9)     Hilangkan sumber-sumber yang menyebabkan orang merasa takut dalam organisasi agar mereka dapat bekerja secara efektif dan efisien.
(10)  Hilangkan slogan-slogan dan keharusan-keharusan kepada staf. Hal seperti itu biasanya hanya akan menimbulkan hubungan yang tidak baik antara atasan dan bawahan; atau lebih jauh akan menjadi penyebab rendahnya mutu dan produktivitas pada sisten organisasi; bawahan hanya bekerja sekedar memenuhi keharusan saja.
(11)  Hilangkan kuota atau target-target kuantitatif belaka. Bekerja dengan menekankan pada target kuantitatif sering melupakan kualitas.
(12)  Singkirkan penghalang yang merebut/merampas hak para pimpinan dan pelaksana untuk bangga dengan hasil kerjanya masing-masing.
(13)  Lembagakan program pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan diri bagi semua orang dalam lembaga. Setiap orang harus sadar bahwa sebagai profesional harus selalu meningkatkan kemampuan dirinya, dan
(14)  Libatkan semua orang dalam lembaga ikut dalam proses transformasi menuju peningkatan mutu. Ciptakan struktur yang memungkinkan semua orang bisa ikut serta dalam usaha memperbaiki mutu produk/jasa yang diusahakan.

Pendapat lain tentang bagiamana mencapai mutu yaitu dari Philip Crosby ( Salis, 1993), bahwa terdapat 14 langkah, meliputi:

(1)        Komitmen pada pimpinan. Inisiatif pencapaian mutu pada umumnya oleh pimpinan dan dikomunikasikan sebagai kebijakan secara jelas dan dimengerti oleh seluruh unsur pelaksana lembaga.
(2)        Bentuk tim perbaikan mutu yang bertugas merumuskan dan mengendalikan program peningkatan mutu.
(3)        Buatlah pengukuran mutu, dengan cara tentukan baseline data saat program peningkatan mutu dimulai, dan tentukan standar mutu yang diinginkan sebagai patokan. Dalam penentuan standar mutu libatkanlah pelanggan agar dapat diketahui harapan dan kebutuhan mereka.
(4)        Menghitung biaya mutu. Setiap mutu dari suatu produk/jasa dihitung termasuk didalamnya antara lain: kalau terjadi pengulangan pekerjaan jika terjadi kesalahan, inspeksi/supervisi, dan test/ percobaan.
(5)        Membangkitkan kesadaran akan mutu bagi setiap orang yang terlibat dalam proses produksi/jasa dalam lembaga.
(6)        Melakukan tindakan perbaikan. Untuk ini perlu metodologi yang sistematis agar tindakan yang dilakukan cocok dengan penyelesaian masalah yang dihadapi, dan karenanya perlu dibuat suatu seri tugas-tugas tim dalam agenda yang cermat. Selama pelaksanaan sebaiknya dilakukan pertemuan regular agar didapat feed back dari mereka.
(7)        Lakukan perencanaan kerja tanpa cacat (zero deffect planning) dari pimpinan sampai pada seluruh staf pelaksana.
(8)        Adakan pelatihan pada tingkat pimpinan (supervisor training) untuk mengetahui peranan mereka masing-masing dalam proses pencapaian mutu, teristimewa bagi pimpinan tingkat menengah. Lebih lanjut juga bagi pimpinan tingkat bawah dan pelaksananya.
(9)        Adakan hari tanpa cacat, untuk menciptakan komitmen dan kesadaran tentang pentingnya pengembangan staf.
(10)     Goal Setting. Setiap tim/bagian merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan tepat dan harus dapat diukur keberhasilannya.
(11)     Berusaha menghilangkan penyebab kesalahan . Ini berarti sekaligus melakukan usaha perbaikan. Salah satu dari usaha ini adalah adanya kesempatan staf mengkomunikasikan kepada atasannya mana diantara pekerjaannya yang sulit dilakukan.
(12)     Harus ada pengakuan atas prestasi (recognition) bukan berupa uang, tapi misalnya penghargaan atau sertifikat dan lainnya sejenis.
(13)     Bentuk suatu Komisi Mutu, yang secara profesional akan merencanakan usaha-usaha perbaikan mutu dan memonitor secara berkelanjutan, dan
(14)     Lakukan berulangkali, karena program mencapai mutu tak pernah akan berakhir.

PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP TQM DALAM PENDIDIKAN
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut. Mereka yang belajar tersebut bisa merupakan mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer (primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Para klien terkait dengan
orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder  secondary external customers). Pelanggan lainnya yang bersifat tersier adalah lapangan kerja bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers). Selain itu, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari interen lembaga; mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga
pendidikan (internal customers). Walaupun para para guru/dosen/tutor dan tenaga   administrasi, serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses  elayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas mereka diuntungkan, baik secara kebanggaan maupun finansial.

Seperti disebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan pendidikan suatu lembaga haruslah memperhatikan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan.

Sebagai contoh dari penerapan 14 prinsip-prinsip pencapaian mutu Edward Deming, kita bisa mengaplikasikan pada perguruan tinggi. Uraian tentang penerapan prinsip-prinsip tersebut di lembaga pendidikan/perguruan tinggi (Slamet, 1999), dapat meliputi hal-hal berikut:

(1)            Untuk menjadi perguruan tinggi (PT) yang bermutu perlu kesadaran, niat dan usaha yang sungguh-sungguh dari segenap unsur di dalamnya. Pengakuan orang lain (mahasiswa, sejawat dan masyarakat) bahwa PT kita adalah bermutu harus diraih.
(2)        PT yang bermutu adalah yang secara keseluruhan memberikan kepuasan kepada masyarakat pelanggannya, artinya harapan dan kebutuhan pelanggan terpenuhi dengan jasa yang diberikan oleh PT tersebut. Kebutuhan pelanggan adalah berkembangnya SDM yang bermutu dan tersedianya informasi, pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat, karya/produk PT tersebut. Bentuk kepuasan pelanggan misalnya para lulusannya merasakan manfaat pendidikannya dalam meniti karirnya di lapangan kerja. Selain itu didalam PT tersebut terjadi proses belajar-mengajar yang teratur dan lancar, dosen-dosennya produktif, berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, dan lulusannya berperestasi cemerlang di masyarakat.
(3)        Perhatian PT selalu ditujukan pada kebutuhan dan harapan para pelanggan: mahasiswa, masyarakat, industri, pemerintahan dan lainnya, sehingga mereka puas karenanya.
(4)            Dalam PT yang bermutu tumbuh dan berkembang kerjasama yang baik antar sesama unsur didalamnya untuk mencapai mutu yang ditetapkan. Sebagai contoh kelompok pengajar bekerjasama menyusun startegi pembelajaran mahasiswa secara efektif dan efisien. Jika hanya satu atau dua saja dosen yang mengajar secara baik tidaklah cukup, karena tidak akan menjamin terjadinya mutu mahasiswa yang baik. Untuk itu, maka harus semua dosen menjadi pengajar yang baik. Sebaliknya, jika dosennya menjadi pengajar yang baik, maka mahasiswanya haruslah ingin belajar secara efektif. Proses belajar mengajar tidak dapat dikatakan efektif dan efisien jika hanya sepihak, dosennya saja atau mahasiswanya saja yang baik. Interaksi yang baik antar sesama unsure dalam PT harus terjalin secara intensif, agar pencapaian mutu dapat berhasil sesuai harapan. Dalam upaya menggiatkan kerjasama antar unsur dalam PT tersebut perlu dibentuk “tim perbaikan mutu” yang diberi kewenangan untuk mencari upaya agar mutu PT lebih baik. Untuk ini pelatihan kepada tim terutama tentang cara-cara bekerjasama yang efektif dan efisisen dalam tim sangat diperlukan.
(5)        Diperlukan pimpinan yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan mempermudah serta mempercepat proses perbaikan mutu. Pimpinan lembaga (Pimpinan Fakultas, Pimpinan Jurusan, Pimpinan Program Studi dan pimpinan lainnya) bertugas sebagai motivator dan fasilitator bagi orang-orang yang bekerja dibawah pengawasannya untuk mencapai mutu. Setiap atasan adalah pemimpin, sehingga ia haruslah memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan haruslah yang membuat orang kemudian merasa lebih berdaya, sehingga yang dipimpin mampu melaksanakan tugas pekerjaannya lebih baik dan hasil yang lebih baik pula.
(6)        Semua karya PT ( pengajaran, penelitian, pengabdian, administrasi dll.) selalu diorientasikan pada mutu, karena setiap unsur yang ada didalamnya telah berkomitmen kuat pada mutu. Akibat dari orientasi ini, maka semua karya yang tidak bermutu ditolak atau dihindari.
(7)        Ada upaya perbaikan mutu PT secara berkelanjutan. Untuk ini standar mutu yang ditetapkan sebelumnya selalu dievaluasi dan diperbaiki sedikit demi sedikit sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
(8)        Segala keputusan untuk perbaikan mutu pelayanan pendidikan/pengajaran selalau didasarkan data dan fakta untuk menghindari adanya kelemahan dan keraguan dalam pelaksananannya.
(9)        Penyajian data dan fakta dapat ditunjang dengan berbagai alat dan teknik untuk perbaikan mutu yang bisa dianalisis dan disimpulkan, sehingga tidak menyesatkan.
(10)        Hendaknya pekerjaan di PT jangan dilihat sebagai pekerjaan rutin yang sama saja dari waktu ke waktu, karena bisa membosankan. Setiap kegiatan di PT harus direncanakan dan dilaksanakan dengan cermat, serta hasilnya dievaluasi dan dibandingkan dengan standar yang ditetapkan. Hendaknya tercipta kondisi pada setiap yang bekerja dilembaga tersebut untuk bersedia belajar sambil bekerja, dan sedapat mungkin diprogramkan baik belajar tentang materi, metode , prosedur dan lain-lain.
(11)     Dari waktu ke waktu prosedur kerja yang digunakan di PT perlu ditinjau apakah mendatangkan hasil yang diharapkan. Jika tidak maka prosedur tersebut perlu diubah dengan yang lebih baik.
(12)     Perlunya pengakuan dan penghargaan bagi yang telah berusaha memperbaiki mutu kerja dan hasilnya. Dosen-dosen dan karyawan administrasi mencoba cara-cara kerja baru dan jika mereka berhasil diberikan pengakuan dan penghargaan.
(13)     Perbaikan prosedur antar fungsi di PT sebagai bentuk kerjasama harus dijalin hubungan saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada yang lebih penting satu unsur dari unsur yang lain dalam mencapai mutu PT. Misalnya, tenaga administrasi sama pentingnya dengan tenaga pengajar, dan sebaliknya.
(14)     Tradisikan pertemuan antar pengajar dan mahasiswa untuk mereview proses belajar-mengajar dalam rangka memperbaiki pendidikan/pengajaran yang bemutu. Pertemuan dengan orang tua mahasiswa, pertemuan dengan tokoh masyarakat, dengan alumni, pemerintah daerah, pengusaha dan donatur PT dapat dilakukan oleh penyelenggara PT. Pendek kata, hendaknya semua unsur yang berkepentingan dengan PT dapat berpartisipasi ikut mengembangkan PT mencapai mutu yang baik.

Mendasarkan hal-hal diatas, tampak bahwa sebenarnya mutu pendidikan adalah merupakan akumulasi dari semua mutu jasa pelayanan yang ada di lembaga pendidikan yang diterima oleh para pelanggannya. Layanan pendidikan adalah suatu proses yang panjang, dan kegiatannya yang satu dipengaruhi oleh kegiatannya yang lain. Bila semua kegiatan dilakukan dengan baik, maka hasil akhir layanan pendidikan tersebut akan mencapai hasil yang baik, berupa “mutu terpadu.”

Sekali Melangkah Pantang Surut Arah !!!
Sampai Jumpa Di Puncak Kejayaan ….



Selasa, 15 Maret 2011

PARADOX QUALITY : Berpikir Tentang Mutu

Kesadaran terhadap mutu (quality) memiliki dampak yang luar biasa terhadap tingginya tuntutan manusia akan terpenuhinya keinginan dan kebutuhan mereka. Yang cukup dikhawatirkan adalah jangan sampai kodisi ini akan membuat manusia tidak lagi bisa membedakan apa yang menjadi harapannya dalam ukuran 'kebutuhan' atau kah 'keinginan'. Jelas sekali bahwa kebutuhan tentunya dilatar-belakangi oleh adanya realita; sedangkan keinginan adalah tidak terukur tingkat kepuasannya (baca: tanpa batas).

Ada banyak masyarakat kita yang saat ini sedang menikmati sebuah 'mutu pendidikan' apa adanya jauh dari ketercukupan sarananya, namun masyarakat tersebut tidak pernah merasa kurang apalagi mengeluh. Sementara pula saat yang sama, banyak orang di daerah ketercukupan sarana (baca: maju) telah terbiasa dengan mutu sekolah yang boleh diukur sebagai kemajuan.  Namun kondisi ini, malah membuat masyarakat 'maju' tersebut lah yang merasa kehidupannya (khususnya pendidikan) sangat 'kurang bermutu'. Sungguh menjadi sebuah pandangan 'mutu paradox' : kenapa keluhan kok tidak malah muncul dalam kondisi mereka yang 'apa adanya' ?

Memperhatikan kondisi di atas, bisa kita artikan bahwa sudah ada sebuah pergeseran atas tercapainya sebuah perubahan (kondisi).  Ternyata sebuah kemajuan yang dicapai (mutu) oleh kelompok masyarakat bukan atas prakarsa sebuah kekuatan sentral (pemimpin : pemerintah) seperti harapan yang ada pada benak kita di masa lalu. Kemajuan yang telah terjadi adalah lebih karena tuntutan dan kesadaran masing-masing individu dalam harapannya mendapatkan sesuatu (pendidikan) yang lebih baik. 

Jika pandangan singkat kami di atas bisa dinggap benar, mengapa tidak sebaiknya  'kita semua bersegera melakukan perubahan sendiri' tidak lagi menunggu kesempatan dan arahan dari pimpinan (pemerintah). Dalam hal ini, fungsi pemimpin lebih berfungsi sebagai 'koordinator perubahan' , 'koordinator mutu'. Jangan lagi kita tetep mempertahankan sebuah konsep kepemimpinan : "Ing Ngarso Sung Tulodo", "Ing Madya Mangun Karsa", & "Tut wuri handayani".

Sudah waktunya masing-masing individu melakukan perubahan. Karena terlalu lama jika kita menunggu perbahan dari 'Pimpinan Kita'. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa ternyata 'Pemimpin' di negeri ini sudah identik dengan : "Menang sendiri, Cari Keuntungan, Cari Kemapanan, Cari Kesempatan, Cari Kekuasaan, cari Pengakuan, ...Cari ..cari,... dan cari ".

Jangan lagi mengeluh saudara ku , lakukan lah perubahan mulai diri anda sendiri. Karena sebuah keberhasilan saat ini adalah semata mata karena kemauan kita untuk berubah. Allah telah menunjukkan Kuasa Nya, .....

"Sekali Melangkah Pantang Surut Arah ..."
"Sampai Jumpa di Puncak Kejayaan ".... 

Minggu, 06 Februari 2011

IDEA CONSULTANT : CHARACTER BUILDING TRAINING

"Masuklah dari pintu pribadi 'mereka' dan keluarlah dari 'pintu pribadi' anda : niscaya beribu-ribu kemenangan akan menjadi milik anda" ...

 Membangun karakter diri sebaiknya dimulai dengan membawa diri kita ke dalam pola pribadi yang mau dan mampu berpikir 'positif'. Sebuah kondisi pribadi manusia positif, yang mampu bersikap wajar : bisa marah, menegur, protes, dan lain sebagainya. Hanya saja semua dilakukan dengan sudut pandang, motivasi, dan cara-cara yang positif. Artinya bahwa membangun karakter diri yang positif merupakan proses yang perlu kemauan dan perjuangan yang terus menerus tanpa henti. Karena seorang 'pribadi yang positif' pun akan bisa jatuh menjadi 'pribadi negatif' apabila kemampuan untuk berpikir positif sudah berada dalam puncaknya. Alasan itu lah, sesorang yang ingin selalu menjadi 'pribadi yang positif' harus selalu berusaha dengan selalu berlatih, agar pribadi positif tidak pernah mencapai puncak batas pribadinya.

Sebuah konsep untuk mengenali karakter seseorang oleh Prof. William Martson tahun 1928, bahwa pada hakekatnya untuk mempermudah memahami pribadi manusia bisa digolongkan dalam 4 (empat) karakter sentral. Yaitu : Dominance (Kuasa), Influence (Inspirator), Conscience (teratur & analis), dan Steadiness         ( penurut). 

Konsep ini berkembang pesat dan dipakai oleh berbagai kalangan untuk membangun sebuah pencapaian 'visi' dengan membangun karakter melalui kesadaran dan pengenalan diri. Sebuah perbedaan karakter tidak lah sebuah malapetaka bagi kita yang menguasai karakter. Namun perbedaan pribadi (baca: karakter) adalah sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar manusia bisa saling mengisi dan mencapai kemenangan. 

"Sekali Melangkah Pantang Surut Arah ... !!!"
"Sampai Jumpa Di Puncak Kejayaan ... See You At The Top "

Untuk pelatihan ini dalam rangka memenangkan diri dan usaha anda hubungi segera customer care IDEA CONSULTANT :

081 259 962 926 
0351 774 8778
idea_koes@yahoo.com

Kamis, 13 Januari 2011

DEFENSIVE DRIVING TRAINING

DEFENSIVE DRIVING
Defensive Driving is the goal of driving safely saves time, money, and save lives. Although it is due to the actions of people / other drivers around you and / or conditions are not favorable.
Driving defensively means adjusting the way you drive to the circumstances in order to prevent accidents, save time and money. A defensive driver knows that the other driver's attention means attention to himself. He gave way to other drivers to overcome their mistakes. Defensive driver is unlikely that affected ticket or accident. That is why they can save time and money on a journey.
Occurrence of Accidents Cause and Effect 
 a. Less Control
       
1) Lack of preparation and driving do not follow guidelines
       
2) Lack of supervision of his superiors.
 
b. Basic Cause
       
1) Human Factors (driver)
           
Example: due to physical limitations of the driver (too tall, too short, fat / fat, skinny)
       
2) Job Factors and Vehicle
           
Example: unhealthy working conditions, excessive working hours, the vehicle is not road worthy.
 
c. Direct Cause
       1) Actions which endanger the driver (unsafe action)
          Example: One or late signal, less thorough check of vehicle condition, driving force yourself when 
          physical and mental conditions do not permit, speeding, joking while driving, working to do something  
          else  while driving, acting reckless.
        2) Conditions that harm (unsafe condition)
         
  Example: room cramped cabin, one or more components of the vehicle is not functioning properly  
           (tires, brakes, steering system, lights, etc.), slippery roads and rocky, foggy weather.
Accident Types
a. Preventable accidents (preventable Accident)
Example: an accident because the driver's drowsiness, the tire exploded, perforated brake, was hit from behind, accidents due to foggy weather.
b. Accidents that Can not Be Prevented (Unpreventable Accident)
In principle that accidents caused by human factors, vehicle, road, traffic, light and weather, is are all factors that can be prevented. Only natural factors or rather a natural disaster and the fate that can not be determined, fate is a factor beyond human capability. Example: accidents due to landslides, fallen trees, wind, earthquake.
3. Six Conditions While Driving
There are six kinds of conditions that affect you while driving. Your ability to know these conditions and potential dangers that exist, will determine your ability to drive a vehicle. The six conditions are: driver, vehicle, road, traffic, light, and weather.
a. Driver Condition
Driving is a job that requires a healthy mind and a good consideration. Confusion briefly to bring harm or got a ticket. The best conditions require your full attention. These conditions include:
1) If you are too tired to drive, get someone else to replace while. If forced to drive, find a safe place and 
    stop for a while.
2) If you're driving long distance, stop to rest and relieve tension at certain times.
3) If you are in a state of angry or confused, angry or lost confused cool before driving.
4) If you get prescription medications, ask your doctor about the effects of the medication on your ability to 
     drive.
5) If the conduct periodic health checks do not forget to check your eyes and ears.
6) Feeling like an excessive time driving as dangerous as driving when feeling uncomfortable. Therefore, if  
     you   feel uncomfortable, mengemudilah with more carefully or ask for help someone else drive the vehicle. In this way everything will be safe.
b. Vehicle Condition
When you think about how the vehicle is extremely valuable for your safety and comfort, so now think about the state of cleanliness and how you care for her. Some parts of vehicles that require your attention include:
1) Air pressure, tires, yeast tires, spare tire.
2) large light: clean and straight.
3) rear lights
4) Light hazard
5) Lamp sein
6) Horn
7) Cleaning windshield
8) Removal of glass / wiper
9) Belt: fan belt, power steering, safety belts.
10) Filter: oil, air
11) Muffler
12) Speedmeter.
13) limits the content of brake fluid, oil, power steering, battery, radiator
14) Other: child safety seats.
c. Road Conditions
There are three kinds of road conditions that must be considered:
1) Notice the way
   
Is the straight road, slope, derivative, flat?
2) Watch the road surface
   
a) Does the road cement, asphalt, sand, mud, or gravel?
   
b) Does the road is dry, wet or slippery?
   
c) Is it flat or bumpy roads?
   
d) Is the pathways and curb clearly visible?
3) Attention Shoulder Road
   
Is it safe to pass in an emergency?
d. Traffic Conditions
Traffic may be solid or may be lonely. Morning, noon, and evening, is the rush hour, so traffic is very dense at all. Therefore, by knowing the points congestion / density of traffic and hours of congestion / traffic density, you will be able to estimate the travel time would you travel. You will try to find alternative roads or you will accelerate / delay your trip, so your time is not wasted.
Traffic flow may be fast or slow. Mengemudilah according to speed traffic flow. If you are driving slower then stay in left lane. Know that you also have to treat pedestrians, cyclists, motorcyclists, just politely with other motor vehicles. So when you see pedestrians or motorists cross the street (even though such action is not justified) then you still have to be patient and give in to them. Remember defensive driver will always try to avoid the accident, whether due to own fault or the fault of others.
e. Light Conditions
The intensity of light affects your ability to see and affect other drivers see you. At night, your pupils open wide so that light can enter as much as possible. Vision will be dark if there is a light vehicle from the front, and your pupils will return to normal within 4-7 seconds. This means that the speed of 80 km an hour, your car will go as far as ± 320 meters in a state of "dark". So if you see a vehicle in front of the headlights, then you have to do is:
1) The road slowly, larger distances in italics.
2) Blink your lights as a signal to the driver's vehicle coming from the front to change the direction of the lights.
3) Consider the left side of the road up to the roadside boundary.
At night, the driver was driving too fast makes it hard to see a danger and act in time, this event is called "over-driving your headlights."
To prevent that you do not glare in the daytime, wear a pair of sunglasses. Good sunglasses will help you to be able to see more clearly in the glare. Against glare due to direct sunlight, you can turn your car sun barrier ahead and set it to protect your eyes.
f. Weather Conditions
Weather can affect you see and be seen. Rain and fog can reduce your ability to see the street, the center line, and traffic signs. It also can help the road slippery and reduces the ability of vehicles to stop, start, and turned. When drizzle or new rain soaked streets, roads will become more slippery and dangerous, because water will dissolve the dirt, dust and oil, which is on the road.
When rainy weather you may also experience an event called hydroplaning or aquaplaning. Hydroplaning is a condition of driving on a thin layer of water, so it does not touch the road. Hydroplaning occurs because one or a combination of three factors:
1) The speed is too high
2) The road slippery, or too much water
3) Ban bald
While the fog is water vapor and reflect light. So if you are wearing the light far away, its light directly into the fog and reflect back the light. The result will reduce the ability of the eye to see who and what's in front of you. Therefore you are driving in foggy places do it:
1) Reduce speed
2) Use the fog lights that light leads down, or you can use the hazard lights.
Position While Driving
The ability of a defensive driver is also determined by knowledge of potential hazards in any position of driving time and know what to do to act in a timely manner in order to overcome these dangers. The position of driving time are:
a. In front of your vehicle
Use the 2 second rule is "ONE THOUSAND AND ONE, ONE THOUSAND AND TWO" or "Thousand ONE AND ONE, ONE AND TWO Thousand." The trick is as follows: "When the vehicle in front of you pass a sign such as: bridges, lampposts, or a line on the road, then start counting from the back of his vehicle THOUSAND AND ONE, ONE THOUSAND AND TWO. If you reach the marker before it runs out then you calculate the distance you are too close. If you are finished counting right behind the sign, then your distance with the vehicle in front is correct. Therefore, continuous training procession distance rule this 2 seconds until it becomes a habit. With 2 second rule is you will have a safe distance to anticipate all possibilities that will happen to the vehicle in front of you.
b. Vehicles in your Rear
Here are some things to do when there are vehicles behind you:
1) Give the convenience to the vehicle behind you so that can adjust the speed with your vehicle. Use lights and brake lights directions for other drivers to understand. 2) Reduce speed and slowly stop using the rules of the procession a distance of 2 seconds to the vehicle in front.
3) When the vehicle behind you follow too close, then reduce speed and give it to him to precede. Add distance to the vehicle in front of the procession to 4 seconds. Gradually reduce speed and help to give way.
Note: Rules distance procession 2 and 4 seconds done when the driver's condition, vehicles, roads, traffic, light and weather, in normal circumstances.
c. Preceded precede or
Before you go ahead, ask yourself "Do I need to precede", if necessary, then do the following things:
1) Stay in the back with 2 second rule.
a) Note the future. Is there a vehicle coming from the front? If there is not preceded!
b) Note the vehicle behind and places that are not visible.
c) Give a sign to the right.
2) Move right
a) Add a speed
b) Put a ring signal lights and horn to the vehicle you are ahead.
c) Put a left and stay alert to places that are not visible.
3) Move to the left
a) Turn off the lights Signpost
b) Return to a safe speed.
If you precede the other vehicle, the driver for help to precede immediately. Note the vehicle coming from the front and reduce speed. If the driver may need a place to be in front of you, reduce speed. In this way both will be secure and safe.
d. Vehicles That Come From Home
Do things as follows:
1) Read the situation of street
2) Reduce your speed
3) Move the vehicle left
4) Move the vehicle out of the way
If you're forced to run out the way then look for:
1) Place a soft, such as: grass, shrubs, hedges
2) fixed objects such as trees is relatively small, car parking, or signs.
3) Move according to your direction even if it means crashing into a vehicle that direction.
4) Look! If you have to hit a fixed object or there is no other choice and have to hit a vehicle coming from the front, then grazed is a good option compared to the total collision.
e. Driving at the Crossroads
Your driving ability will be tested at the time you are in the intersection. These include 5 the driving position as well. Therefore be prepared to budge. Sometimes it means succumbing slowly, stops, to help other drivers to give your right.
f. Retreat
DO NOT BACK - DO NOT BACK - DO NOT BACK, BACK ONLY IF REALLY NEED.
Backward movement is a dangerous situation. Therefore reverse only when the state was forced, so do not be backward if not absolutely necessary. Calculate the "Blind Spots" at your time back. Blind Spots are areas around the vehicle that is not affordable vision through the rearview mirror. The emergence of blind spots is the result of the limitations of the rearview mirror. To try to minimize the blind spots as often as possible (once every 50-10 seconds) to see the rearview mirror (left, right or in the cabin) in a way cast.
Nine key principal to resign:
1) Pay attention to the back with a clear (direct view by turning the head).
2) Sound the horn before the retreat
3) Immediately withdraw (do not believe that the situation will remain the same last seen).
4) Back off slowly
5) When the retreat is always look at the rearview mirror (direct look at areas that are not visible in the rearview mirror)
6) Reverse taste
7) Reverse the direction clearly visible from the corner of the wheelhouse
8) Use the cue giver
9) If you park, try to immediately move forward when leaving.
g. Stop and Parking
Consider first the traffic signs ban on "stop and parking lot" if you will stop or parking. Do stop or parking in a safe place and do not interfere. After a stop or parking executed, use the hand brake and put the teeth in accordance with the slope of the parking lot. While distance is a secure parking:
1) ± as wide as the vehicle door plus one irritated, to park side by side (diagonal and vertical)
2) ± ¼ of the length of the vehicle, for parallel parking.
 
 h. Turn Turn (U-Turn)
If you are going to do turn round then do it and note the following:
1) Control the speed and watch the traffic signs.
2) See other vehicles around you (front, rear, left side, and on the road that will be entered).
3) The vehicle in front has the "right way ahead" is that in the back should have waited.
4) Put a light sein to play.
5) If the situation is safe or authorize, implement new turn round.
i. Driving in the Corner
Dangers of driving around the corner is the vehicle will be pushed to one side due to centrifugal force, and you do not see vehicles coming from the front. Therefore, do the following things:
1) Reduce speed
2) Stay in your lane. To reduce the rocking then you can be slightly to the side or ketengah when cornering, with a record of your vehicles do not get past the road markings.
3) Put a signal to the vehicle from the front. Horn signal for daytime and cue lights for night.
j. Driving on the Rise
Customize your teeth with the state climbs to get the engine power, because the ramp will reduce engine power. In making changes to the teeth should be as soft and as soon as possible, because if too late will allow the vehicle stalled or retreated, if this happens, usually the driver tends to push the pedal force that resulted in engine knocking (tingly), which will lead to further decrease the ability of the engine.
Also when driving ditanjakan you must be alert to the possibility of vehicles coming from front or behind the top of the hill, because your views will be limited.
k. Driving in Derivatives
The streets that will lead to decreased vehicle tends to slide, which may be beyond the ability of the engine. If this is allowed then the control will be difficult. To cope with these events then do it by road:
1) Lifting the foot from the accelerator.
2) Stepping on the brakes
3) Placing the transmission position according to the level of derivative
Practicing Alert
Practicing alert means you have to train the habit of seeing eye to get the cavity to driving safety. If the disorder is on a driver, there will be conflicts that can cause accidents or near accidents. The reason is because the driver can not properly use the power of vision. Habits are wrong in seeing is the element that often causes the driver late in anticipation of any conflict.
To improve the way in driving the correct view is to "practice alert" is by five principal methods of how to see. This method is a union of mutual support and should be trained continually, regularly, so it will become a habit that sticks.
Add caption
a. The first method Navigate VIEWS DISTANT FUTURE
With a direct view of the future as far as the eye sees, aims to:
1) Determine objectives to be achieved
2) Plan for each action
3) Placing a position on the right track
4) Reduce stress.
b. The second method GET BROADER VIEW
Eliminate all obstacles that can restrict vision. The purpose of this method are:
1) Knowing the whole picture is in front (stationary or moving object)
2) It can estimate any conflicts that may arise
3) Able to perform each movement with quiet.

c. The third method DIRECTION OF SIGHT always moving
This method can be implemented, among others, by the way: see the mirror every 5 / 8 seconds, see right - left - right at least every 2 seconds, and eye movement at least every 2 seconds. It aims:
1) It can ensure the actions of others clearly.
2) Can ensure a safe position.
d. The fourth method is ALWAYS WATCH THE ROAD OUT
"Always thinking, what if ....? Therefore, always provide a safe port for your vehicle, namely in the parking lot, as traffic congestion, timer, and so forth. It is intended that:
1) To avoid trapped in conflict areas.
2) Ease out of an obstacle
e. The fifth method MAKE SURE YOU SEE OTHERS
The method can be implemented, among others, by the way: communicate in a friendly with others, get feedback of eye contact or body movement, place your vehicle for obvious, and clearly show your movement. All this aims to:
1) Avoid for other people do not act suddenly
2) Avoid for other people do not hit you.
Standard Formula Accident Prevention

a. SEE, see the existence of a hazard
b. THINK, think to find out how to prevent it
c.
DO, acted just in time to avoid danger.
The three elements mentioned above is the main occupation in driving. If you can use the three elements are correctly and accurately so you can avoid an accident.

Defensive Driver Criteria
By understanding that the essence of a defensive driver is not an accident as well as the abilities of a defensive driver to prevent accidents, then a defensive driver must meet the following criteria:
a. Do not violate traffic regulations.
b. Traffic manners
c. Driving without an accident
d. No damage to vehicle
e. Can set the time.